BANJARBARU, BeritaBanjarbaru.com – Sampah dapur yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata bisa diubah menjadi produk bermanfaat. Di Kelurahan Guntung Paikat, Kota Banjarbaru, sisa makanan dan bahan organik rumah tangga diolah menjadi kompos hingga eco enzyme.
Inisiatif tersebut mulai memperlihatkan hasil. Melalui program LOSIDA (Lodong Sisa Dapur), Kelurahan Guntung Paikat melaksanakan panen kompos pada Selasa (27/10/2026). Hasil penguraian sampah organik itu telah matang dan siap dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman.
Lurah Guntung Paikat, Reza Pahlevi, mengatakan program LOSIDA menjadi salah satu langkah untuk mengubah kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah rumah tangga.
Menurutnya, sampah organik seharusnya tidak langsung dibuang, karena masih bisa diolah dan dimanfaatkan kembali.
“Kompos yang dihasilkan sudah matang dan siap digunakan sebagai pupuk tanaman. Hasil kompos tersebut langsung diaplikasikan ke tanaman di dalam pot,” ujarnya.

Menariknya, pengolahan sampah di Guntung Paikat tidak hanya berhenti pada pembuatan kompos. Kelurahan tersebut juga mengembangkan produksi eco enzyme yang diolah oleh Pokja III TP PKK Kelurahan Guntung Paikat.
Produk eco enzyme tersebut kini juga telah memasuki masa panen.
Pengembangan LOSIDA dan eco enzyme menjadi bagian dari kolaborasi pemerintah kelurahan, TP PKK, serta mahasiswa untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kurangi Sampah Sebelum Masuk TPA
Program ini mengangkat persoalan mendasar dalam pengelolaan sampah perkotaan, yakni masih banyaknya sampah organik rumah tangga yang langsung dibuang tanpa melalui proses pemilahan dan pengolahan.
Padahal, sampah dapur merupakan salah satu jenis sampah yang dihasilkan setiap hari. Jika dikelola sejak dari rumah, sebagian sampah tersebut dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Melalui LOSIDA dan pengolahan eco enzyme, masyarakat didorong membangun kebiasaan memilah sampah, mengolah bahan organik, hingga memanfaatkan hasilnya untuk kebutuhan lingkungan sekitar.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial saat panen, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan di tingkat rumah tangga.
Sebab, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan memperbesar kapasitas pengangkutan atau memperluas tempat pembuangan. Pengurangan volume sampah justru perlu dimulai dari sumbernya.
Dari dapur rumah tangga, perubahan kecil itu bisa dimulai. Sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini memiliki peluang untuk kembali dimanfaatkan.












