BANJARBARU, BeritaBanjarbaru.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai melandai di Kota Banjarbaru menjadi harapan bagi masyarakat. Namun, di tengah kondisi tersebut, pemerintah kota mulai dihadapkan pada tantangan berikutnya, yakni mengantisipasi potensi banjir seiring datangnya musim penghujan.
Sebagai bentuk ikhtiar bersama agar bencana karhutla segera berakhir, Pemerintah Kota Banjarbaru bersama Dewan Pengurus Cabang (DPC) Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) menggelar Salat Istisqa berjamaah di halaman Balai Kota Banjarbaru, Senin (2/11/2026).
Salat memohon turunnya hujan tersebut dipimpin Al-Mukarram Tuan Guru KH Muhammad Wildan Salman. Kegiatan diikuti Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby, Presiden Kerukunan Bubuhan Banjar Sadunia H Sahbirin Noor, jajaran pejabat pemerintah, tokoh agama, serta masyarakat.
Wali Kota Erna Lisa Halaby mengatakan, pelaksanaan Salat Istisqa merupakan inisiasi Kerukunan Bubuhan Banjar yang kemudian bersinergi dengan Pemko Banjarbaru. Kegiatan tersebut menjadi bentuk doa dan ikhtiar bersama agar masyarakat segera terbebas dari dampak karhutla.
“Alhamdulillah, kita di Banjarbaru sudah beberapa kali mengalami hujan yang cukup deras, dan sampai saat ini kita merasakan untuk kabut asap sendiri sudah melandai,” ujarnya.
Meski kondisi kabut asap mulai berkurang, Lisa menegaskan pemerintah tidak ingin lengah menghadapi perubahan musim. Potensi genangan dan banjir mulai menjadi perhatian, terutama pada kawasan yang selama ini rawan terdampak ketika hujan dengan intensitas tinggi.
Pemko Banjarbaru, menurutnya, telah melakukan pembersihan dan normalisasi saluran drainase serta sungai sebagai bagian dari langkah mitigasi.
Persoalan genangan di Jalan A Yani juga menjadi perhatian. Penanganannya disebut membutuhkan koordinasi lintas instansi, termasuk dengan pemerintah provinsi dan Balai Jalan.
“Untuk genangan air yang ada di Jalan A Yani, tentunya bukan hanya dengan Pemerintah Provinsi, kita ke Balai Jalan juga sudah ada koordinasi untuk penanganannya,” jelasnya.
Sementara itu, Presiden Kerukunan Bubuhan Banjar Sadunia H Sahbirin Noor berharap doa yang dipanjatkan bersama dapat dikabulkan sehingga hujan membawa keberkahan bagi masyarakat dan karhutla tidak kembali meluas.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa pergantian musim di Kalimantan Selatan kerap diikuti persoalan berbeda. Saat kemarau, masyarakat menghadapi ancaman kebakaran, sedangkan ketika musim hujan tiba, risiko banjir perlu diantisipasi.
“Kalau musim kemarau itu pasti kebakaran, kalau musim hujan banjir, jadi kita sudah tahu dan tinggal mengantisipasi saja lagi. Dan rajin kata kuncinya, rajin turun ke lapangan,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya dilakukan ketika kejadian berlangsung. Kesiapan infrastruktur, pemeliharaan drainase, serta pemantauan wilayah rawan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak terus menghadapi persoalan bencana yang berulang setiap pergantian musim.
