Indeks

INFRASTRUKTUR JALAN DAN MITIGASI BANJIR JADI KONEKTIVITAS BANJARBARU EMAS

Banjarbaru, BeritaBanjarbaru.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarbaru melalui Bidang Bina Marga memperkuat pembangunan infrastruktur jalan sebagai fondasi utama konektivitas wilayah dalam mendukung visi Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera) melalui pendekatan terintegrasi berbasis data dan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) pada periode 2025–2029.

Peran Bidang Bina Marga menjadi krusial dalam memastikan mobilitas masyarakat dan distribusi ekonomi berjalan optimal. Pembangunan jalan tidak lagi dipandang sebagai proyek fisik semata, tetapi sebagai instrumen strategis yang menghubungkan berbagai sektor pembangunan daerah.

Kepala Bidan Bina Marga Dinas PUPR Banjarbaru Adi Maulana, menjelaskan pembangunan infrastruktur jalan saat ini dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur dan terintegrasi.

“Pembangunan jalan tidak bisa berdiri sendiri. Harus terhubung dengan kebutuhan sektor lain seperti ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik,” ujarnya.

Fokus utama Bidang Bina Marga adalah peningkatan kualitas jalan, pemeliharaan rutin, serta pembukaan akses jalan baru di kawasan berkembang. Infrastruktur jalan yang baik berperan langsung dalam memperlancar mobilitas masyarakat, mengurangi biaya logistik, serta meningkatkan akses terhadap layanan dasar.

Konektivitas jalan memiliki korelasi kuat dengan sektor ekonomi yang dikelola Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja. Akses jalan yang memadai mempermudah pelaku usaha dalam mendistribusikan barang dan jasa, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pinggiran.

Di sektor kesehatan, infrastruktur jalan mempercepat akses masyarakat menuju fasilitas layanan kesehatan. Kondisi jalan yang baik memungkinkan distribusi layanan kesehatan menjadi lebih cepat dan merata, terutama dalam kondisi darurat.

Dalam perencanaan, pembangunan jalan dilakukan berbasis data yang disusun bersama Bapperida. Analisis kebutuhan infrastruktur diselaraskan dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah, sehingga setiap proyek memiliki dampak yang terukur terhadap capaian visi Banjarbaru EMAS.

Perencanaan yang lebih selektif dan berbasis skala prioritas terus dilakukan. Jalan-jalan dengan tingkat kerusakan tinggi, volume lalu lintas tinggi, serta memiliki dampak besar terhadap aktivitas ekonomi dan sosial menjadi prioritas utama dalam pembangunan.

Selain pembangunan fisik, Bidang Bina Marga juga memperkuat sistem pemeliharaan jalan. Pemeliharaan rutin menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas infrastruktur agar tetap berfungsi optimal dalam jangka panjang.

Dalam konteks pengembangan wilayah, pembangunan jalan juga diarahkan untuk membuka akses ke kawasan-kawasan baru yang memiliki potensi ekonomi. Hal ini menjadi bagian dari strategi pemerataan pembangunan agar tidak terpusat di wilayah tertentu saja.

Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, menegaskan bahwa infrastruktur jalan memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah.

“Jalan adalah urat nadi ekonomi. Kalau konektivitas baik, maka aktivitas masyarakat juga akan meningkat,” ujarnya.

Lisa menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang berorientasi jangka panjang.
“Kita membangun bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Infrastruktur harus mampu mendukung pertumbuhan kota secara berkelanjutan,” tegasnya.

Ke depan, Bidang Bina Marga menargetkan peningkatan kualitas dan kemantapan jalan secara bertahap hingga 2029. Target ini menjadi bagian dari upaya menciptakan konektivitas wilayah yang lebih merata dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah

Selain itu, integrasi dengan sistem transportasi juga menjadi perhatian. Infrastruktur jalan harus mampu mendukung pengembangan transportasi publik seperti layanan angkutan massal yang saat ini terus dikembangkan oleh Dinas Perhubungan.

Kolaborasi lintas OPD menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan pembangunan infrastruktur jalan. Setiap program tidak hanya dilihat dari sisi teknis, tetapi juga dampaknya terhadap sektor lain.

Dengan pendekatan terintegrasi ini, Bidang Bina Marga tidak hanya membangun jalan, tetapi juga membangun konektivitas yang menggerakkan seluruh sektor pembangunan.

Jalan yang terbangun bukan sekadar penghubung antar wilayah, tetapi menjadi jalur utama yang mengalirkan pertumbuhan ekonomi, memperluas akses layanan publik, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pembangunan infrastruktur jalan yang terencana, terukur, dan terintegrasi, Bidang Bina Marga menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan visi Banjarbaru EMAS dapat terwujud secara nyata di lapangan.

Sementara itu  Bidang Sumber Daya Air (SDA) pada Dinas PUPR Kota Banjarbaru terus memperkuat perannya dalam mendukung visi pembangunan Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera) melalui pengelolaan air yang terpadu, berkelanjutan, dan berbasis mitigasi bencana.

Pengelolaan SDA menjadi aspek krusial dalam mewujudkan kota yang tertata, aman, dan nyaman bagi masyarakat. Indikator utama keberhasilan pengelolaan ini meliputi tersedianya infrastruktur sungai, irigasi, dan drainase yang baik, serta berkurangnya jumlah dan durasi banjir maupun genangan. Selain itu, pengendalian daya rusak air, ketersediaan cadangan air saat musim kemarau, serta perlindungan kawasan resapan juga menjadi tolok ukur penting.

Strategi Terpadu untuk Kota Berkelanjutan
Bidang SDA menjalankan berbagai strategi, mulai dari pemeliharaan rutin sungai dan drainase agar aliran tetap lancar, pembangunan turap dan tanggul untuk mencegah longsor dan banjir, hingga pembangunan kolam retensi yang juga difungsikan sebagai ruang terbuka publik.

Konsep zero run off atau pengendalian limpasan air juga diterapkan melalui pembangunan sumur resapan dan kolam tampungan, sehingga air hujan tidak langsung membebani sungai. Selain itu, rekomendasi teknis seperti batas sempadan sungai dan tinggi muka air banjir turut menjadi bagian dari pengendalian pembangunan kota.

Dalam perencanaan tata air, pembangunan di Banjarbaru diarahkan untuk tetap menjaga kawasan resapan, memperhatikan wilayah rawan bencana, serta memastikan sistem drainase terintegrasi dengan tata ruang kota. Hal ini dilakukan melalui koordinasi lintas wilayah, mengingat posisi Banjarbaru yang berada di antara Kabupaten Banjar, Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut.

Tantangan Banjir dan Penanganannya
Meski berbagai upaya telah dilakukan, banjir masih terjadi di sejumlah wilayah. Faktor utama penyebabnya antara lain kondisi geografis dataran rendah seperti di Liang Anggang, sedimentasi sungai, serta pengaruh pasang air laut (rob) di hilir.

Saat ini, wilayah prioritas penanganan banjir meliputi Cempaka, Landasan Ulin, dan Liang Anggang. Di kawasan Cempaka, pemerintah memprioritaskan pembebasan lahan untuk peningkatan kapasitas Sungai Kuranji. Sementara itu, di wilayah lain dilakukan pemeliharaan rutin untuk menjaga kelancaran aliran air.

Solusi yang diterapkan mencakup langkah jangka pendek berupa normalisasi sungai, jangka menengah melalui pembangunan embung dan kolam retensi, serta jangka panjang berupa pengendalian tata ruang dan penggunaan lahan.

Progres Infrastruktur dan Capaian
Hingga akhir 2025, perlindungan infrastruktur dari daya rusak air di Banjarbaru mencapai 34,30 persen, dan ditargetkan meningkat menjadi 37,61 persen pada 2026. Secara jangka panjang, angka ini ditargetkan mencapai 46,57 persen pada 2030.

Dalam satu tahun terakhir, pembangunan dan peningkatan drainase telah mencapai 12,5 kilometer. Selain itu, jumlah titik rawan banjir yang sebelumnya terdata sebanyak 52 titik kini berkurang signifikan, dengan hanya 9 titik teridentifikasi pada musim hujan 2025–2026.

Untuk pengendalian banjir, hingga 2026 telah dibangun 14 embung dan kolam retensi, terdiri dari 3 unit oleh pemerintah pusat dan 11 unit oleh Pemerintah Kota Banjarbaru. Namun, dari kebutuhan total 41 unit, capaian ini baru mencapai sekitar 29,27 persen.

Inovasi dan Dampak bagi Masyarakat
Bidang SDA juga menghadirkan inovasi berbasis teknologi, seperti sistem telemetri untuk memantau curah hujan dan tinggi muka air secara real-time sebagai bagian dari sistem peringatan dini. Selain itu, dikembangkan pula Sistem Informasi SDA (SISDA) berbasis geospasial yang memungkinkan pelaporan kondisi infrastruktur oleh masyarakat.

Dampak dari pengelolaan SDA yang baik dirasakan langsung oleh masyarakat, di antaranya berkurangnya risiko banjir dan longsor, meningkatnya stabilitas ekonomi, serta menurunnya risiko penyakit akibat bencana.

Dengan berbagai upaya tersebut, Bidang Sumber Daya Air terus berkomitmen menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Banjarbaru sebagai kota yang aman, tertata, dan berkelanjutan sesuai visi Banjarbaru EMAS.

Exit mobile version