Indeks

EKOSISTEM LAYANAN BERBASIS DATA CEPAT, TRANSPARAN DAN EFISIEN MASYARAKAT DAPAT AKSES LAYANAN TANPA SEKAT BIROKRASI



Banjarbaru, BeritaBanjarbaru.com – Transformasi Digital Banjarbaru: Sudah di Jalur EMAS, Tapi Belum Tanpa Tantangan Banjarbaru terus melaju dalam peta transformasi digital daerah. Di balik jargon “Banjarbaru EMAS” (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera), peran Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menjadi salah satu motor penggerak utama, terutama dalam memastikan aspek “Maju” dan “Adil” tidak sekadar slogan, tetapi terwujud dalam pelayanan publik yang nyata.


Digitalisasi yang didorong Kominfo bukan lagi sebatas modernisasi sistem, melainkan telah menyentuh jantung tata kelola pemerintahan. Melalui integrasi layanan seperti Idaman Publik dan Idaman Office, pemerintah kota mulai membangun ekosistem layanan berbasis data yang lebih cepat, transparan, dan efisien. Dampaknya terasa langsung: masyarakat kini dapat mengakses layanan tanpa sekat birokrasi yang berbelit.


Namun, capaian ini bukan tanpa ukuran. Pemerintah menggunakan Indeks SPBE sebagai indikator utama, yang tidak hanya menilai teknologi, tetapi juga integrasi sistem dan kualitas layanan. Artinya, keberhasilan digitalisasi tidak diukur dari banyaknya aplikasi, melainkan dari seberapa efektif sistem tersebut bekerja dan dirasakan masyarakat.


Dalam konteks tata kelola data, Banjarbaru menunjukkan progres yang cukup solid. Implementasi Satu Data Indonesia telah berjalan dengan nilai indeks mencapai 75,12% pada 2025. Integrasi antar-OPD mulai terbentuk melalui Portal Satu Data, meski belum sepenuhnya sempurna.


Peran Kominfo sebagai walidata menjadi krusial: memastikan data valid, mutakhir, dan bisa dipakai lintas sektor. Ini penting, karena kebijakan tanpa data yang akurat hanya akan menghasilkan program yang tidak tepat sasaran.


Meski demikian, tantangan klasik masih ada—ego sektoral antar instansi dan konsistensi pembaruan data. Tanpa disiplin data, integrasi hanya akan menjadi formalitas administratif.


Infrastruktur Kuat, Tapi Belum Merata

Dari sisi infrastruktur, Banjarbaru bisa dibilang relatif maju. Jaringan internet pemerintah sudah terpusat, menjangkau 115 titik layanan publik dengan sistem dedicated yang stabil dan cepat. Command center, CCTV kota, hingga data center terintegrasi menjadi bukti keseriusan membangun smart city.


Namun, realitas di lapangan belum sepenuhnya merata. Beberapa wilayah seperti Cempaka dan Landasan Ulin Utara masih menghadapi keterbatasan akses. Ini menjadi ironi tersendiri: di satu sisi kota berbicara tentang smart city, di sisi lain masih ada blankspot.


Pemerintah memang telah memetakan masalah ini dan menjalin koordinasi dengan penyedia layanan. Tetapi percepatan pemerataan akan menjadi kunci agar digitalisasi tidak hanya dinikmati sebagian wilayah.


Menurut kepala Dinas kominfo Banjarbaru ,Agus Adrian di era digital, komunikasi publik menjadi penentu kepercayaan. Kominfo memanfaatkan berbagai kanal—media sosial, media center, hingga forum publik—untuk menyampaikan informasi pembangunan secara terbuka.


“Pendekatan ini cukup efektif. Data menunjukkan ratusan laporan masyarakat masuk melalui kanal pengaduan, menandakan adanya kepercayaan dan partisipasi publik. Namun, transparansi bukan hanya soal membuka informasi, tetapi juga soal konsistensi respons”,ujarnya.


Di sisi lain, ancaman hoaks dan disinformasi tetap menjadi pekerjaan rumah. Strategi klarifikasi cepat dan pelibatan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) menjadi langkah penting, meski literasi digital masyarakat masih perlu terus ditingkatkan.


Di balik kemajuan digital, risiko keamanan menjadi isu serius. Dalam tiga bulan pertama 2026 saja, tercatat lebih dari 23 juta anomali trafik dalam sistem pemerintah Banjarbaru. Meski sebagian besar berhasil ditangkal, angka ini menunjukkan tingginya intensitas ancaman siber.


Kasus yang benar-benar terverifikasi memang kecil, namun cukup menjadi alarm. Pemerintah telah merespons dengan penguatan sistem keamanan seperti SIEM, EDR, firewall, hingga backup data dan pembentukan tim tanggap insiden (CSIRT).


Langkah ini menunjukkan kesadaran bahwa digitalisasi tanpa keamanan hanya akan membuka celah risiko yang lebih besar.


Menuju 2029: Ambisi Kota Berbasis Data

Ke depan, target Kominfo cukup ambisius: menjadikan Banjarbaru sebagai kota berbasis data dan teknologi pada 2029. Strateginya bertahap—mulai dari penguatan infrastruktur, integrasi layanan, hingga pemantapan sistem berbasis data.


Jika konsisten, arah ini bisa membawa Banjarbaru menjadi salah satu model kota digital di tingkat nasional. Namun, keberhasilan tetap bergantung pada tiga hal: pemerataan akses, kualitas SDM, dan disiplin tata kelola data.


Secara umum, transformasi digital Banjarbaru memang sudah berada di jalur yang tepat. Infrastruktur kuat, sistem mulai terintegrasi, dan komunikasi publik semakin terbuka.


Kesenjangan akses, literasi digital, dan keamanan siber masih menjadi tantangan nyata yang harus diselesaikan secara konsisten.


Digitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan alat, teknologi benar-benar mempermudah hidup Masyarakat,semua lapisan warga, maka Banjarbaru benar-benar sedang menuju EMAS—bukan sekadar dalam visi, tetapi dalam realitas


Exit mobile version