UKM, SEKTOR PERTANIAN, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI BANJARBARU

0
Isra Ul Huda, Dosen Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Panca Setia. Photo: Ist

Sebagai salah satu Kota di Kalsel, Banjarbaru memiliki potensi sekaligus tantangan yang berbeda dari daerah lain di Kalsel. Banjabaru misalnya tak mungkin sepenuhnya mengantungkan diri pada sumber daya alam seperti beberapa kabupaten lainnya di Kalsel. Memberi atmosfer yang baik bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) sekaligus pro pada sektor pertanian harusnya menjadi pilihan pemerintah lokal. Karena tak bisa dipungkiri, kedua sektor itu memengaruhi pertumbuhan ekonomi Banjarbaru. Berikut ini kami turunkan opini tentang pengaruh jumlah UKM, sektor pertanian dan pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi Kota. Bagi para penulis dan intelektual yang ingin membagi pemikirannya, silahkan kirim tulisan ke e-mail: redaksi@beritabanjarbaru.com/ rudyazhary.a.se@gmail.com

UKM, Sektor Pertanian, dan Pertumbuhan Ekonomi Banjarbaru

Oleh: Isra Ul Huda ST MM

Dosen Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pancasetia.
E-mail: israulhuda@yahoo.com

Latar Belakang

Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan atau milik badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam Undang undang ini. Kriteria UMKM adalah usaha yang maksimal assetnya Rp. 50 juta dan omsetnya maksimal Rp. 300 juta. Sedangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil. Usaha kecil sebagaimana yang dimaksud Undang-undang adalah usaha yang kriterianya Rp. 50 – 500 juta dengan kriteria omset antara Rp. 300 juta– Rp. 2,5 milyar. Sumber: Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

UKM  (Usaha  Kecil  Menengah  selain sebagai  salah  satu  alternatif  lapangan  kerja baru, UKM juga berperan dalam mendorong laju  pertumbuhan  ekonomi  pasca  krisis moneter  di  saat  perusahaan-perusahaan besar  mengalami  kesulitan  dalam mengembangkan  usahanya.  Saat  ini,  UKM telah  berkontribusi  besar  pada  pendapatan daerah  maupun  pendapatan  Negara Indonesia. (Kristiyanti, 2012)

Sumber: BPS Banjarbaru, Diolah 2019

Gambar 1 PDRB Usaha Kecil Menengah Menurut Sektor Ekonomi Kota Banjarbaru Tahun 2013-2017 Atas Dasar Harga Konstan (Miliar Rupiah)

Data diatas, merupakan data perkembangan UKM. Berikut perkembangan UKM sesuai dengan kategori: Kategori Industri Pengolahan memiliki andil yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi Kota Banjarbaru. Pada tahun 2017, kategori ini berhasil menciptakan nilai tambah sebesar 433 milyar  rupiah  atau berkontribusi  5,18  persen terhadap perekonomian  Kota  Banjarbaru. Melihat perkembangannya selama periode  2013-2017,  kategori ini secara umum selalu tumbuh positif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar  4,60  persen. Hal tersebut mengindikasikan bahwa lapangan usaha Industri Pengolahan cukup prospektif dan  layak dikembangkan. Dukungan dari pemerintah sangat diperlukan  agar  usaha industri mampu menciptakan produk  yang berdaya saing tinggi. (BPS Banjarbaru, 2018)

Sumber : BPS Banjarbaru, Diolah 2019

Gambar 2 Jumlah Unit Usaha di Kota Banjarbaru Tahun 2013-2017

Tahun  2017  perusahaan  industri  di Kota  Banjarbaru  berdasarkan  data dari Badan Pusat Statistik  Kota  Banjarbaru berjumlah  1.302  buah,  yang  terdiri  dari 14  buah  industri  besar,  75  industri sedang,  360  industri  kecil  dan  853 industri rumah tangga. Industri  makanan,  minuman  dan tembakau  berjumlah  434  buah,  industri tekstil,  pakaian  jadi  dan  kulit  82  buah, industri   kayu  dan  hasil  dari  kayu  dan rotan  234  buah,  industri  kertas,  barang dari  kertas  dan  percetakan  51  buah, industri  dasar  dari  barang  logam  158 buah, dan industri lain-lain 343 buah. (BPS Banjarbaru, 2018)

Di lihat dari kontribusi UKM terhadap PDRB Banjarbaru, UKM memiliki peran penting dalam pengembangan usaha di Indonesia.

UKM juga merupakan cikal bakal dari tumbuhnya usaha besar. Hampir semua usaha besar berawal dari UKM. Usaha kecil menengah (UKM) harus terus ditingkatkan (up grade) dan aktif agar dapat maju dan bersaing dengan perusahaan besar. Jika tidak, UKM di Banjarbaru yang merupakan jantung perekonomian Indonesia tidak akan bisa maju dan berkembang.

Selain UKM faktor yang mempengaruh pertumbuhan ekonomi dan juga penyerapan tenaga kerja adalah sektor pertanian. Presiden Yudhoyono melalui disertasinya tahun 2004, berpendapat rezim pemerintahan berpengaruh nyata terhadap kinerja perekonomian khususnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Kemiskinan. Dengan pengeluaran pemerintah untuk pembangunan sektor pertanian berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran kemudian menurunkan angka kemiskinan.

Sumber : BPS Banjarbaru, Diolah 2019

Gambar 3 Perkembangan PDRB Sektor Pertanian Kota Banjarbaru Tahun 2013-2017

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Kota Banjarbaru dari tahun 2013-2017 selalu mengalami peningkatan dari 112,8 miliar rupiah dari tahun 2013 menjadi 162,9 miliar rupiah pada tahun 2017. Kondisi ini mengidentifikasikan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang berpotensi besar dalam menyumbang PDRB Kota Banjarbaru dan sangat berpotensi untuk pengembangan Wilayah dan pengembangan ekonomi daerah Kota Banjarbaru. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang terpenting dalam pembangunan perekonomian Kota Banjarbaru. Ada beberapa hal yang membuat pembangunan sektor pertanian menjadi penting di Kota Banjarbaru, diantaranya potensi sumber daya alam yang besar dan beragam karakteristik dan kondisi geografis yang berbeda, sehingga memungkinkan keberagaman komoditas yang dihasilkan. Selain itu Sektor pertanian selalu mengalami peningkatan dari tahun 2013-2017.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang “Analisis Pengaruh Jumlah Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Sektor Pertanian Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjarbaru”.

Studi Literatur

  1. Usaha Kecil Menengah (UKM)

Menurut Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), Usaha Kecil (UK) termasuk Usaha Mikro (UMI) adalah entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Sementara itu, Usaha Menengah (UM) merupakan entitas usaha milik warga negara Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 s.d. Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), UKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja yaitu usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.

  1. Sektor Pertanian

Pertanian adalah kegiataan atau usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertujuan untuk menyediakan bahan makanan bagi manusia. Pada mulanya pertanian di tanah air dilakukan sebagai usaha untuk menghasilkan keperluan sehari-hari petani dari tanah tempatnya berpijak, pertanian seperti itu disebut pertanian gurem dan hidup dalam suatu perekonomian tertutup (Nasoetion,2005)

  1. Pertumbuhan Ekonomi

Produk Domestik Bruto (PDB) adalah pendapatan total dan pengeluaran total nasional atas output barang dan jasa. Produk domestik bruto sering dianggap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian. Tujuan PDB adalah meringkas aktivitas ekonomi dalam suatu nilai uang tertentu selama periode waktu tertentu. (Mankiw, 2007)

Gambar 4 Kerangka Konseptual

MetodePenelitian

Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan cara statistik, yakni menganalisa dengan berbagai dasar statistik dengan cara membaca tabel, grafik atau angka yang telah tersedia kemudian dilakukan beberapa uraian atau penafsiran dari data-data tersebut.

Teknik Analisa Data

Penelitian ini menggunakan metode analisa data kuantitatif, teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda, dengan alat analisis eviews6. Analisis regresi berganda merupakan analisis untuk mengetahui pengaruh variable bebas (independen) yang jumlahnya lebih dari satu terhadap satu variable terikat (dependen). Model analisis regresi linier berganda digunakan untuk menjelaskan hubungan dan seberapa besar pengaruh variabel-variabel bebas (independen) terhadap variable terikat (dependen).

Hasil Penelitian

  1. Perkembangan PDRB Kota Banjarbaru

Salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang dapat dijadikan tolak ukur secara makro ialah pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan dari perubahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam suatu wilayah. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah menandakan semakin baik kegiatan ekonomi diperoleh dari laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan (Todaro dan Smith, 2008).

Secara umum pertumbuhan Produk Dosmetik Regional Bruto terus mengalami peningkatan jumlah. Kemudian Perekonomian Kota Banjarbaru dilihat dari besaran nilai PDRB, dimana selama tahun 2017 Kota Banjarbaru telah mampu menghasilkan nilai tambah bruto sebesar 7,941 trilyun rupiah, yang jika dilihat dengan harga konstan sekitar 5,457 trilyun rupiah. Dengan demikian pertumbuhan Kota Banjarbaru di tahun 2017 mencapai 6,96 persen.

  1. Jumlah UKM di Kota Banjarbaru

Menurut Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), Usaha Kecil (UK) termasuk Usaha Mikro (UMI). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), UKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja yaitu usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang. Berikut data Jumlah UKM dan Perkembangan UKM Kota Banjarbaru.

Tabel 2

Data Jumlah dan Perkembangan UKM Banjarbaru

Departemen Koperasi (2008) berpendapat, secara umum UKM dalam perekonomian nasional memiliki peran: (1) sebagai pemeran utama dalam kegiatan ekonomi, (2) penyedia lapangan kerja terbesar, (3) pemain penting dalam pengembangan perekonomian lokal dan pemberdayaan masyarakat, (4) pencipta pasar baru   dan   sumber   inovasi,   serta   (5)   kontribusinya   terhadap neraca pembayaran.

Jika melihat peran tersebut, maka UKM memiliki peran yang sangat vital dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan juga kesejahteraan masyarakat. Tabel 2 menunjukkan bahwa angka Jumlah Usaha Kecil dan Menengah mengalami peningkatan pada tahun 2008 sampai dengan 2011, akan tetapi mengalami penurunan pada tahun 2012, dan mengalami peningkatan kembali tahun 2013, kemudian mengalami penurun pada tahun 2014, dari tahun 2015 mengalami peningkatan sampai tahun 2017. Dengan demikian tren Jumlah Usaha Kecil dan Menengah cenderung fluktuatif tidak konsisten.

  1. Sektor Pertanian

Menurut Nasoetion,2005, Pertanian adalah kegiataan atau usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertujuan untuk menyediakan bahan makanan bagi manusia.  Statistik Pertanian, 2009 berpendapat Sub pertanian yaitu semua kegiatan yang meliputi penyediaan komoditi tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Semua kegiatan penyediaan bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Bedasarkan pendapat tersebut, berikut data Sektor Pertanian Kota Banjarbaru :

Tabel 3

PDRB Sektor Pertanian Kota Banjarbaru Tahun 2008-2017

Tambunanan (2011) Berpendapat dalam sebuah negara berkembang pertanian merupakan suatu sektor ekonomi yang sangat potensional kontribusinya terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi nasional. Dengan demikian dapat disimpulkan secara konseptual  sektor pertanian cukup layak untuk dijadikan sebagai sektor andalan dalam perekonomian terutama sebagai sektor andalan dalam pemerataan tingkat pendapatan masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh, angka sektor pertanian Kota Banjarbaru cenderung mengalami peningkatan, akan tetapi jika melihat dari pertumbuhan atau perkembangan angka peningkatan dari tahun 2008 sampai dengan 2017.

4. Analisis Regresi Linear Berganda

Dalam menganalisis pengaruh Jumlah UKM (X1) dan Sektor Pertanian (X2) terhadap PDRB Kota Banjarbaru tahun 2008-2017 dilakukan dengan menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS). Analisis model ini menggunakan alat bantu program komputer Eviews6. Hasil estimasi model diperoleh adalah sebagai berikut:

Tabel 4

Hasil Pengujian Regresi Secara Parsial

 

  1. Jumlah UKM

Berdasarkan table 4 hasil regresi diperoleh nilai Prob. T-statistic jumlah UKM sebesar 0.4635 yang menunjukkan Prob. T-statistic > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel jumlah UKM tidak berpengaruh signifikan terhadap PDRB Kota Banjarbaru secara parsial. Sehingga dapat dinyatakan pula bahwa jumlah UKM tidak berpengaruh nyata terhadap PDRB Kota Banjarbaru.

2. Sektor Pertanian

Berdasarkan table 4 hasil regresi diperoleh nilai Prob. T-statistic Sektor Pertanian sebesar 0,0010 yang menunjukkan Prob. T-statistic < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Sektor Pertanian berpengaruh signifikan terhadap PDRB Kota Banjarbaru secara parsial. Sehingga dapat dinyatakan pula bahwa Sektor Pertanian di Kota Banjarbaru berpengaruh nyata terhadap PDRB Kota Banjarbaru.

Pembahasan

Jumlah UKM berpengaruh Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjarbaru

Hipotesis pertama (H1) yang diajukan berbunyi: Diduga terdapat pengaruh-pengaruh jumlah unit UKM terhadap Pertumbuhan Ekonomi Banjarbaru. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebagai berikut :

Variabel jumlah unit UKM tidak mempunyai pengaruh signifikan secara parsial terhadap pertumbuhan ekonomi di Banjarbaru didapatkan nilai Prob. T-statistic jumlah UKM sebesar 0.4635 yang menunjukkan Prob. T-statistic > 0,05 (lebih besar dari 0,05). Hal ini membuktikan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini tidak teruji kebenarannya atau ditolak.

Dengan demikian dapat diketahui setiap jumlah unit usaha kecil menengah mengalami peningkatan 1 satuan jumlah unit usaha kecil menengah belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Banjarbaru, selain itu juga berlaku sebaliknya, bahwa setiap penurunan 1 satuan jumlah unit usaha kecil menengah belum tentu menurunkan pertumbuhan ekonomi Kota Banjarbaru.

Dalam kebijaksanaan pemerintah untuk menumbuhkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dari tahun ke tahun terus disempurnakan, namun dirasakan saat ini di Kota Banjarbaru belum sepenuhnya kondusif. Efek dari perdagangan bebas berimplikasi luas terhadap usaha kecil dan menengah untuk bersaing dalam perdagangan bebas.

Selain itu, berdasarkan data yang diperoleh Jumlah Usaha Kecil dan Menengah mengalami peningkatan pada tahun 2008 sampai dengan 2011, akan tetapi mengalami penurunan pada tahun 2012, dan mengalami peningkatan kembali tahun 2013, kemudian mengalami penurun pada tahun 2014, dari tahun 2015 mengalami peningkatan sampai tahun 2017. Dengan demikian tren Jumlah Usaha Kecil dan Menengah cenderung fluktuatif tidak konsisten, hal tersebut diprediksi yang menyebabkan hasil tidak pengaruh signifikan Jumlah Unit UKM terhadap Pertumbuhan Ekonomi Banjarbaru. Sektor Pertanian berpengaruh Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjarbaru Kota Banjarbaru

Hipotesis kedua (H2) yang diajukan berbunyi: Diduga terdapat pengaruh pengaruh PDRB Sektor Pertanian terhadap Pertumbuhan Ekonomi Banjarbaru. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebagai berikut :

Variabel Sektor Pertanian dengan nilai Prob. T-statistic Sektor Pertanian sebesar 0,0010 yang menunjukkan Prob. T-statistic < 0,05, (Lebih kecil dari 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Sektor Pertanian berpengaruh signifikan terhadap PDRB Kota Banjarbaru secara parsial. Hal ini membuktikan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini teruji kebenarannya atau diterima.

Artinya sektor pertanian merupakan penggerak bagi Pertumbuhan Ekonomi Banjarbaru, walaupun Banjarbaru merupakan wilayah Kota sesuai dengan Undang-Undang No. 9 Tahun 1999, akan tetapi berdasarkan data yang diperoleh, angka sektor pertanian Kota Banjarbaru cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai dengan 2017.

Dengan demikian sektor pertanian Banjarbaru dalam perekonomian ikut serta mengurangi jumlah kemiskinan, penyumbang dalam pembangunan yang berkelanjutan. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pendapat  Presiden Yudhoyono, dalam disertasinya 2004, dengan hasil penelitian kondisi ekonomi politik yang ditimbulkan oleh pasca rezim orde baru cenderung menurunkan PDB pertanian dan non pertanian, akibatnya kemiskinan di pedesaan dan perkotaan cenderung meningkat. Dengan demikian dapat disimpulkan, apabila kebijakan Pemerintahan Banjarbaru terus meningkatkan pada sektor pertanian akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, kemudian akan menurunkan angka kemiskinan.

Penelitian ini sesuai dengan pendapat Todaro (2003) Sektor pertanian menjadi sebuah sektor penting dalam sebuah negara yang dapat menjadi sektor penyumbang perekonomian. Sehingga sudah menjadi kewajaran apabila sektor pertanian mendapatkan perhatian dominan di negara-negara yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada sektor ini.

Kesimpulan

  1. Variabel Jumlah Unit UKM tidak mempunyai pengaruh signifikan secara parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Banjarbaru. Tren Jumlah Usaha Kecil dan Menengah cenderung fluktuatif tidak konsisten dari tahun 2008 sampai dengan 2017, hal tersebut diprediksi yang menyebabkan hasil tidak pengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Banjarbaru.
  2. Variabel Sektor Pertanian berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Banjarbaru. Angka sektor pertanian Kota Banjarbaru cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampa dengan 2017 hal tersebut diprediksi yang menyebabkan hasil berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjarbaru

Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat direkomendasikan, hendaknya pihak Pemerintah Kota Banjarbaru dapat lebih memperhatikan lagi sektor pertanian, sektor pertanian masih mempunyai pengaruh walaupun permintaan terhadap komoditi pertanian tereduksi oleh arus globalisasi. Banjarbaru merupakan Kota yang memiliki peran sangat penting Bagi Provinsi Kalimantan Selatan, hendaknya Pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) dapat melindungi kelestarian lahan dan membatasi adanya alih fungsi lahan secara bijaksana agar lahan usaha pertanian tetap terjaga. Pemerintah daerah juga perlu memacu pertumbuhanekonomi melalui perluasan investasi terutama di sektor pertanian dengan konsep modern di beberapa wilayah Banjarbaru.

Hasil penelitian menunjukan jumlah UKM di Kota Banjarbaru saat ini belum mampu mempengaruhi pertumbuhan Ekonomi di Kota Banjarbaru, dengan demikian perlunya regulasi khusus untuk mengembangkan UKM di Kota Banjarbaru. UKM diharapkan untuk lebih kreatif dan inovatif seperti menyesuaikan barang dagangannya dengan selera pasar saat ini serta ikut bersaing dengan menggunakan teknologi yang lebih modern dalam berdagang seperti pemasaran lewat media online, agar kedepannya dalam berdagang agar tetap dapat eksis dibidang usahanya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ade Raselawati (2011) yang meneliti Pengaruh Perkembangan Usaha Kecil Menengah terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Sektor UKM di Indonesia

Astawa, D. dan Nengah, I. 2007. Pemberdayaan UKM dan Koperasi di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Jurnal Ekonomi/Tahun XXI, No.01, Maret 2007 (pp:78- 95)

Badan Pusat Statistik Banjarbaru. (2017). Produk Domestik egional Bruto Kota Banjarbaru Menurut Lapangan Usaha 2013-2017. https://banjarbarukota.bps.go.id/publication. (2019).

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21 Update PLS Regresi. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Gujarati, Damodar. (2016). Dasar – Dasar Ekonometrika terjemahan. Jakarta, Erlangga

Hafsah, M.Jafar. 2004. Upaya Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Infokop Nomor 25 Tahun XX

Ilham Alkaf (2015) yang meneliti Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten Cilacap Periode 2002-2013

Kristiyanti, M. 2012. PeranStrategis Usaha Kecil Menengah (UKM) Dalam Pembangunan Nasional. Majalah Ilmiah INFORMATIKA Vol. 3 No.1

  1. Nasution, 2005, “Total Quality Management”, PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Maharani Tejasari (2008) PerananSektor Usaha Kecil Dan Menengah Dalam Penyerapan Tenaga Kerja Dan Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia

Mankiw N, Gregory. 2007. Makro Ekonomi, Terjemahan: Fitria Liza, Imam Nurmawan, Jakarta: PenerbitErlangga

Partomo, T. Dan A. Soejodono. 2014. Ekonomi Skala Kecil/Menengah dan Koperasi. Jakarta: Ghalia

Sukirno, Sadono, 1996. PengantarTeori Makro Ekonomi . PT Raja Grafindo. Jakarta

Tambunan, Tulus. 2001. Perekonomian Indonesia :Teori dan Temuan Empiris. Jakarta

Todaro, M. P. dan S. C. Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jilid 1. Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga

Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Yudhoyono Susilo Bambang, 2004, Pembangunan Pertanian dan Perdesaan Sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan Dan Pengangguran :Analisis Ekonomi-Politik Kebijakan Fiskal. Indonesia

Zuhal. 2010. Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama