PENANGANAN KARHUTLA SALAH OBAT

0

BeritaBanjarbaru.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Banjarbaru, khususnya di sekitaran Bandara harusnya sudah tidak menjadi persoalan hingga 2019. Hal itu dikatakan Sekda Banjarbaru sekaligus Kepala BPBD Kota Banjarbaru H Said Abdullah, Senin (30/9) saat dikonfirmasi penanganan karhutla selama 2019.

Menurut Sekda, persoalan karhutla di kawasan Bandara Sjamsudin Noor sudah dipetakan. Hanya saja, usulan-usulan yang disampaikan ke Presiden RI Joko Widodo pada 2015 lalu tidak tepat.

“Sudah dipetakan kok permasalahnnya. Tapi, yang diusulkan saat Pak Jokowi datang itu sebatas penanggulangan api. Bukan soal bagaimana penanggulangan fisik lahan gambut di kawasan Bandara itu, ” ujar Sekda mengumpamakan usulan itu seperti obat tidak tepat untuk penyakitnya.

Tindakan tegas, kata Sekda, dapat saja dilakukan Pemko. Tetapi, tanggungjawab bukan sepenuhnya milik Pemko Banjarbaru, tapi milik Kalsel. Perlu melibatkan semuanya.

“Warga kita yang terkena dampak, kita yang memadamkan di lahan mereka. Pemiliknya asik-asik aja di cafe. Santai. Kalau ingin cara keras, di eksavator saja lahan itu, kita balik lahan gambut terlantar itu menjadi lahan produktif. Biar mereka datang kesini dan tidak bersantai di kafe kopi. Toh, kita tidak mencuri lahan mereka, hanya membalik lapisan gambutnya saja agar dapat dialihfungsikan, dan tidak mudah terbakar,” kata Sekda menyebutkan para pemilik lahan itu dari Jakarta, Bandung, Surabaya, termasuk dari Kalsel.

Pembuatan kanal-kanal untuk menjaga kandungan air di lahan gambut, menurut Sekda, dapat dilakukan untuk  mendinginkan suhu lapisan gambut. Dengan begitu, lebih dianggap mujarab daripada sosialisasi dan penjagaan.

“Harus berani membuat anggaran besar untuk menjaga fisik lahan gambut agar tetap dingin dan kandungan airnya terjaga. Kalau gambut itu sudah kering, jauh lebih sulit memadamkan dan menentukan kemana api menjalar di lapisan bagian bawah gambut,” ujar Sekda. (Rudy Azhary)