PAK RUDY… | BUDI “DAYAK” KURNIAWAN | FEATURE

0

Pak Rudy…

Oleh: Budi “Dayak” Kurniawan

Pemimpin Redaksi www.BeritaBanjarbaru.com

 

“Pinang nang anum pina barangkap-rangkap

Pinang nang tuha pina barundun-rundun

Lawan nang anum kami maminta maaf

Lawan nang tuha kami maminta ampun”

 

Saban mengakhiri bagarakan sahur di bulan Ramadhan, penjaga malam di komplek membacakan pantun tentang pinang. Bagi Iwan, demikian nama sang penjaga malam terlama di sebuah komplek di Banjarbaru Utara biasa disapa, selain sebagai penanda berpamitan dan menutup bagarakan sahur, pantun itu juga mengingatkan banyak orang untuk selalu saling menghormati. Menghormati yang muda. Apalagi orangtua.

 

Dalam berbagai khazanah, hubungan anak muda dan orangtua terbentang luas. Namun, dalam khazanah Banjar, hubungan itu kadang diwujudkan dalam kata dan kalimat yang “jenaka” sekaligus menggunakan beberapa hal sebagai metafora. Di balik kejenakaan itu justru tersimpan makna sangat dalam. Misalnya, “kupiah buruk”atau “Quran buruk”.

 

Tentang ‘kupiah buruk’ misalnya, khazanah Banjar mengenal kalimat, “Ngalih lawan nang tuha. Kaya kupiah buruk. Dipakai ngalih. Dibuang katulahan.” Atau, “Kaya Quran buruk. Dibaca kada kawa lagi. Dibuang katulahan”. Makna keduanya hampir sama. Susah mengacuhkan atau membuang orangtua. Bisa kualat atau dalam bahasa Banjar disebut katulahan.

 

Bisa jadi konsep katulahan memang disertai sanksi tak kasat mata. Misalnya, tak elok –baik secara agama maupun budaya– ketika orangtua tak lagi dihargai dan dihormati. Apalagi jika mengingat jasa dan apa yang pernah dilakukan para orangtua. Bisa juga lebih dari itu. Orangtua didengarkan dan diikuti kata-katanya –walau tak selalu mereka benar– karena pengalaman mereka mengarungi samudera dan dihantam badai kehidupan. Paling tidak, mereka lebih dulu merasakan manis, pahit, dan asam kehidupan.

 

Hal-hal semacam itulah yang muncul ketika berjumpa dengan H Rudy Ariffin, biasa disapa Pak Rudy, di sebuah malam di Banjarbaru pada pekan kedua Agustus 2019. Atmosfer pengalaman sebagai orangtua yang telah melewati samudera, merasakan manis, pahit, dan asam kehidupan itu meruap begitu saja. Banyak kisah dan pengalaman berharga yang ia sampaikan. Pengalaman-pengalaman itu bak “kupiah buruk” atau “Quran buruk”.

 

Mungkin Pak Rudy tak lagi menjadi sosok berkuasa seperti ketika masih menjabat. Namun pengalaman-pengalamannya sayang jika dibuang. Dibuang kira-kira bisa katulahan. Apalagi, kini Pak Rudy menjadi satu-satunya tokoh senior Kalsel yang masih tersisa. Teman-teman seangkatannya hampir seluruhnya telah berpulang. Kalau pun masih ada tokoh Kalsel yang tersisa, hampir seluruhnya berusia di bawah Pak Rudy.

 

Pada awalnya Pak Rudy adalah birokrat biasa. Lulus dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Banjarbaru pada tahun 1975, ia ditugaskan di Kecamatan Sungai Tabuk, Banjarmasin. Sungai Tabuk menyimpan kenangan tersendiri bagi suami Hj Hayatun Fardah dan ayah tiga anak ini (Hj Adistya Dewi Ariffin SE, HM Aditya Mufti Ariffin SH MH, dan Setya Persada Ariffin). Sungai Tabuk kala ia ditugaskan masih belum seramai dan sepadat sekarang. Air sungainya pun masih dalam. Buih dari deburan ombak sungai masih memecah di Sungai Asam. Deburan ombaknya masih membuat hati berdebaran. Sama berdebaran ketika melihat orang-orang ramai mandi di batang dan basah tilasan.

 

Karena kenangan mendalam terhadap Sungai Tabuk yang menjadi awal karirnya sebagai birokrat di Kalsel itu pula, dalam beberapa kesempatan ketika masih menjabat, Pak Rudy menyanyikan lagu berjudul ‘Siapa Ampun Larangan’ karya maestro lagu Banjar, H Anang Ardiansyah. “Sungailah Tabuk banyunya dalam/pacahlah buih di Sungai Asam/rasa malibuk hati di dalam/malihat ading basah tilasan/Sirihlah kuning badahan talu/siapalah jua ampun pinangan/putihlah kuning bajalan jauh/Siapalah jua ampun larangan”.

 

Lantunan suara Pak Rudy cukup enak di telinga. Gaya menyanyinya terkesan kalem. Sekalem caranya berbicara. Cara berbicara ini juga menyatu dalam sikap, sifat, dan gesture-nya ketika dipercaya memegang berbagai jabatan. Pak Rudy yang merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Lambung Mangkurat tahun 1980 itu, meniti karir birokrasi dari staf, kepala seksi, kepala bidang, kepala bagian, hingga kepala biro. Ia dipercaya menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar (1997-2000) dan Bupati Banjar (2000-2005).

 

Sebelum menjadi Bupati Banjar, Pak Rudy pernah mengikuti pemilihan bupati di Hulu Sungai Tengah. Pada tahun 2000 itu, bupati masih dipilih anggota DPRD. “Ketika itu beberapa anggota DPRD HST meminta “dikarantina” di sebuah hotel di Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Permintaan itu disetujui. Saya meminta beberapa kawan memantau di depan hotel. Dari laporan kawan-kawan itu, saya paham bagaimana politik bekerja,” kata Pak Rudy kepada BeritaBanjarbaru.com.

 

Entah karena hasil “karantina” atau tidak, yang pasti kala pemilihan digelar di DPRD HST, Pak Rudy dikalahkan H Saiful Rasyid. Jumlah suaranya sangat tipis dan di luar dugaan. Padahal Pak Rudy kala itu didukung partai-partai besar. “Sempat terkejut dan cukup terpukul dengan hasil pemilihan itu. Namun, harus tenang,” katanya.

 

Dua bulan setelah kekalahan itu, Pak Rudy mengikuti pemilihan bupati di Kabupaten Banjar. Hasilnya, ia bersama H Mawardi Abbas terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Banjar. Keduanya berhasil memimpin Kabupaten Banjar. Hal itu terjadi antara lain karena kepiawaiannya membangun hubungan baik dengan para ulama dan Tuan Guru di Martapura dan wilayah Kabupaten Banjar lainnya. Ia juga berhasil menata dan mengelola keuangan daerah yang sebelumnya masih belum rapi dan berjumlah sedikit. “Kala itu akhirnya kami bisa menata dan meningkatkan APBD. Melalui APBD, Kabupaten Banjar bisa mengadakan dan meremajakan sarana dan prasarana,” katanya.

 

Setelah menjadi Bupati Banjar, karir Pak Rudy berlangsung cemerlang. Dunia politik yang berubah seiring runtuhnya Orde Baru dan berseminya partai-partai tak membuat Pak Rudy ketinggalan zaman. Ia misalnya berhasil terpilih dua kali dalam Pilkada Kalsel. Pertama bersama H Rosehan NB (2005-2010). Kedua bersama H Rudy Resnawan (2010-2015). Pak Rudy yang merupakan lulusan SMA Negeri 1 Banjarmasin tahun 1971 itu juga berhasil menjadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Kalsel.

 

Ada dua hal yang hingga kini dikenang Pak Rudy dari rentang panjang kiprahnya di Kalsel.

Pertama, ketika bersama jajarannya dan kalangan legislatif menerbitkan Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pengaturan Penggunaan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk Angkutan Hasil Tambang dan Hasil Perusahaan Perkebunan. Perda yang berlaku pada 23 Januari 2008 itu mewajibkan perusahaan pertambangan batu bara membangun jalan sendiri dan tak boleh lagi melintasi jalan negara.

 

Setelah Perda itu berlaku, konvoi truk-truk besar batu bara yang sebelumnya sesak memenuhi jalanan kota-kota di Kalsel itu tak lagi bebas melintas. Kecelakaan-kecelakaan yang sebelumnya sering memakan korban jiwa tak lagi berlangsung. Debu batu bara yang mengganggu pemakai jalan juga tinggal cerita. Kemacetan panjang akibat banyaknya truk batu bara yang melintas tinggal kenangan.

 

Kedua, dari sekian banyak tempatnya bertugas, kota yang punya ikatan psikologis dan sejarah bagi Pak Rudy adalah Banjarbaru. Ia memang lahir dan hingga SMP di Hulu Sungai Tengah. Namun, Banjarbaru menjadi kota yang menentukan karirnya di kemudian hari. Kala menjadi Bupati Banjar misalnya, Banjarbaru masih berbentuk Kota Administratif. “Ketika itu Pak Rudy Resnawan mengurus banyak hal di Banjarbaru, termasuk soal keuangan. Karena keuangan Banjarbaru waktu itu masih menyatu pengelolaan, penanganan, dan pengaturannya dengan Kabupaten Banjar. Jadi kami bersama Pak Rudy Resnawan bekerjasama meningkatkan pendapatan Banjarbaru. Alhamdulillah berhasil. Hingga kini banyak harapan dan yang ingin kami lakukan untuk Banjarbaru,” katanya.

 

Kini di Banjarbaru pula lah Pak Rudy yang lahir pada 17 Agustus 1953 dan berulangtahun ke-66 pada 17 Agustus 2019 itu bermukim bersama istri dan anak-anaknya. Selamat ulangtahun Pak Rudy…