KAU YANG TELAH PERGI | ACH ‘UCOK’ ROZANI (MANAGER TATA RUANG DAN GIS WALHI NASIONAL)

0

KAU YANG TELAH PERGI 

Oleh: Ach ‘Ucok’ Rozani (Manager Tata Ruang dan GIS Walhi Nasional)

 

Pembicaraan tentang lokasi perpindahan ibu kota dengan Iqin, mantan Direktur Walhi Kaltim (2014-2018) di sore yang muram di sudut Jakarta Selatan itu terhenti tiba-tiba. Seorang teman yang dulu pernah menjadi salah satu staf di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel mengabarkan duka. Dwitho Frasetiandy, biasa kami sapa Andy, berpulang. Sebuah kecelakaan di Kilometer 31, Pemalang, Jawa Tengah, merenggut nyawanya. Tak pelak, duka begitu dalam. 

 

Mungkin bagi sebagian orang Andy bukanlah siapa-siapa. Kepergiannya bisa jadi dianggap biasa. Namun sesungguhnya tak demikian adanya. Andy adalah mantan Direktur Eksekutif Walhi Kalsel periode 2012-2016. Saat memimpin, Andy banyak bersentuhan dengan isu, juga masalah yang menimpa masyarakat adat, petani, dan orang biasa yang tanah dan hak mereka terampas di Kalsel. Perampasan dilakukan banyak pihak, dari penguasa, penambang, hingga pengusaha perkebunan skala besar.

 

Andy –seperti para aktivis lain yang masih memegang prinsip—tak pernah lelah menghadapi masyarakat yang mengadu dan meminta pendampingan Walhi Kalsel. Andy misalnya mengurusi warga Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Hulu Sungai Utara, yang terancam ruang hidupnya. Beberapa izin perkebunan kelapa sawit berskala besar dikeluarkan pemerintah setempat. Lokasinya berada di kawasan yang selama ini digunakan warga Bararawa mengembalakan kerbau kalang yang tersohor itu. 

 

Bersama para tokoh dan masyarakat Bararawa, Walhi Kalsel melawan. Perlawanan dilakukan dengan berbagai cara. Mulai advokasi, konsolidasi, kampanye, hingga mendampingi masyarakat menemui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta. Dalam pertemuan itu muncul setitik harapan. Ada semacam perhatian Jakarta terhadap nasib warga Bararawa.

 

Sayangnya, harapan itu meredup. Di tingkat lokal, pemerintah justru lebih banyak tak mengambil sikap yang berpihak pada masyarakat. Setelah di Bararawa, izin-izin baru justru bermunculan. Perjuangan masyarakat kemudian harus menempuh jalan panjang. Namun Andy dan masyarakat tak pernah lelah.

 

Bersama Andy, Walhi Kalsel juga mendampingi masyarakat di sebuah desa di Kabupaten Tanah Laut. Desa itu tergusur oleh sebuah perusahaan air minum dalam kemasan bermerek lokal. Masyarakat bergerak melawan ketika perusahaan menutup akses keluar masuk ke desa.

Sempat terjadi kriminalisasi terhadap beberapa orang di desa itu. Melalui berbagai cara, perusahaan kemudian menguasai desa. Masyarakat terpecah-belah. Namun, lagi-lagi Andy tak pernah lelah.

 

Sepanjang memimpin Walhi Kalsel, Andy menerapkan konsep dan strategi yang bagi sebagian orang terlalu lembut dan tak heroik. Aksi berupa demonstrasi melawan kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat tetap dilakukan. Namun, di balik aksi itu Andy menerapkan strategi yang lain.  

 

Di kantor Walhi Kalsel di tepian Sungai Ulin, Banjarbaru, sering terlihat Andy serius di hadapan laptop mendesain berbagai program. Kemampuan menguasai bahasa Inggris membuat Andy mudah menyusun program yang berhubungan dengan berbagai lembaga internasional. Dari hasil pemikirannya itu pula, Andy mendorong banyak perubahan bagi masyarakat di berbagai wilayah di Kalsel.

 

***

Setelah masa baktinya sebagai Direktur Walhi Kalsel berakhir pada 2016, Andy pulang ke tempatnya dilahirkan pada 3 Maret 1987 silam di Jakarta. Di Jakarta Andy menikahi kekasihnya, Dyan. Keduanya dikarunia Allah SWT seorang anak laki-laki, Fatih Dyandaru (kini berusia 21 bulan). Keluarga kecil ini tinggal di Pamulang, Tangerang. 

 

Di Jakarta Andy seperti menjauh dari dunia gerakan seperti yang pernah ia jalani di Kalsel. Ia juga tak lagi banyak muncul di media sosial dan membagi pikiran-pikiran kritisnya ke khalayak seperti yang rutin ia lakukan dulu. Dari sang istri diketahui, Andy mencoba menjalankan usaha yang jenisnya juga jauh dari dunia gerakan. 

 

Ia misalnya mencoba membuka toko dan berbisnis jual beli barang yang diambilnya dari Solo kemudian dijual di Jakarta. Dalam beberapa bulan terakhir, ia misalnya bolak-balik Jakarta-Solo. Ketika kecelakaan terjadi, itu merupakan perjalanan Andy yang ketika kali. 

 

Saat menerima kabar kecelakaan itu pada 24 Agustus 2019 pukul 16.25 WIB, berbagai pertanyaan muncul dalam benak. Kenapa? Kok bisa? Dimana? Dan seterusnya. Semua itu terjawab ketika berbicara melalui telpon bersama Dyan. 

 

Dwitho Frasetiandy

Sambil membalas, diselingi isak tangisnya, Dyan perih berkabar dan terbata.

“Mas Andy sudah tidak ada Bang. Kecelakaan jam 1 siang tadi di tol Pemalang perjalanan pulang dari Solo ke Jakarta. Saya minta maaf dan keikhlasan buat Mas Andy atas segala khilaf atau salah selama berteman.”

“Iya Dyan. Pasti kami ikhlas dan doa terbaik untuk almarhum Andy. Yang penting sekarang justru Dyan dan Fatih harus kuat dan sabar. Dan kalau memungkinkan malam ini atau besok pagi aku dan kawan-kawan Walhi ke rumah duka,”aku menjawab.

 

Berusaha tegar dan menerima kenyataan bahwa kawan terbaik memang benar telah pergi ternyata bukan hal mudah. Tetap saja ada yang hilang dan kosong. Apalagi begitu banyak hal yang dijalani bersama Andy kala di Walhi Kalsel. Pada akhir tahun 2008 misalnya, Walhi Kalsel menjadi tempat pertemuanku dan Andy. Andy kala itu adalah Manajer Kampanye Walhi Kalsel. Aku adalah relawan di Komunitas Sumpit  yang merupakan lembaga anggota Walhi Kalsel dan aktif menjadi Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat. 

 

Pada pertemuan pertama, kesanku Andy adalah sosok yang komunikatif, supel, dan ramah.  Seiring perjalanan waktu banyak wacana dan upaya yang dilakukan Almarhum dengan kemampuan kampanyenya di Walhi untuk menyuarakan hak atas lingkungan di Kalsel. Kami dan kawan-kawan lainnya menjelma bak keluarga dalam Walhi Kalsel. Walau tidak selamanya hubungan persaudaraan kami mulus. Terkadang mengalami pasang surut karena pandangan yang berbeda dan saling kritik hingga terkadang kami berbelakang punggung. 

 

Pada 21 Maret 2012 misalnya, Aku dan Andy saling adu argumen mengenai keinginannya menjadi Direktur Walhi Kalsel (2012-2016). Setelah melalui perdebatan panjang, kami bersepakat, jika Andy menjabat Direktur Walhi Kalsel, salah satu tugas yang harus ia jalankan adalah menjadikan lembaga itu sebagai sarana pengkaderan aktivis yang teguh pendirian. Andy melaksanakan kesepakatan itu. Walhi Kalsel kemudian diisi wajah segar dan anak-anak muda. Kepada mereka pula rupanya, Andy meninggalkan harapan… Harapan yang wajib dilanjutkan. Melanjutkan jalan panjang perjuangan. Selamat jalan kawan. Tenang dan damai di sana… (BK)