JALAN SUNYI SASTRA BANJARBARU|FEATURE|BUDI ‘DAYAK’ KURNIAWAN

0

Selama 50 tahun. Yang penting manusianya. Langkah awal yang tidak mudah.

Oleh: Budi ‘Dayak’ Kurniawan
Lantang Arifin Noor Hasby berkisah tentang kegelisahannya terhadap beberapa tulisan yang tak lengkap menulis sejarah dan eksistensi lembaga, komunitas, dan orang-orang yang bergerak di bidang sastra. Sebagian besar tulisan itu, ujar Ariffin Noor Hasby, meninggalkan –bahkan mengabaikan– peran dan jejak para sastrawan yang sejak 50 tahun silam telah menjejakkan langkahnya di Banjarbaru. “Padahal sejak tahun 1969, para sastrawan Banjarbaru sudah berkiprah. Bahkan kiprah itu dalam bentuk penyebarluasan karya sastra dalam bentuk sederhana. Waktu itu ada penyiaran karya sastra melalui radio swasta,” ujar Ariffin Noor Hasby.

Kegelisahan itu lah yang mendorong Ariffin Noor Hasby bersama Hudan Nur dan Ali Syamsudin Arsi menelusuri jejak sastra Banjarbaru beserta pernak-perniknya. Sepanjang penelusuran itu, ketiganya menemukan hal-hal menarik. Misalnya yang medium yang digunakan para sastrawan Banjarbaru menyebarkan karya dan jejak langkah mereka. Dari radio, stensilan, buku berdesain sederhana dan menggunakan mesin ketik, majalah, hingga jurnal. Penulisnya kadang membuat karya sendiri-sendiri dan berkelompok.

Sejak akhir tahun 1960-an, para sastrawan Banjarbaru telah membentuk berbagai komunitas. Komunitas ini pula yang kemudian menghidupkan dunia sastra Banjarbaru melalui berbagai kegiatan. Selain menghasilkan karya-karya sastra, komunitas-komunitas ini juga menggelar berbagai acara. Sebagian sastrawannya juga tampil di banyak perhelatan sastra nasional. Ariffin Noor Hasby misalnya bersama sastrawan lain dari Banjarmasin hadir dan tampil di Taman Ismail Marzuki.

Dari penelusuran itu, lalu lahirlah buku berjudul ’50 Tahun Sastra Banjarbaru, Sejarah dan Jejak Komunitas’. Pada Selasa (26/11) di Aula Gawi Sabarataan Pemko Banjarbaru, buku itu diluncurkan. Hadir dalam peluncuran buku para sastrawan senior Banjarbaru, antara lain Arsyad Indradi, Fakhruddin, dan Samsuri Barak. Juga hadir para sastrawan yang berusia lebih muda. Peluncuran buku diisi pembacaan puisi. Salah satu puisi yang disebut sebagai pemicu terbentuknya Kota Banjarbaru berjudul ‘Surat Kepada Gubernur’ dibacakan Fakhruddin.

Peluncuran juga diisi bedah buku. Awalnya Walikota Banjarbaru H Nadjmi Adhani dalam undangan ditulis sebagai salah satu pembicara bersama Micky Hidayat, sastrawan senior dari Banjarmasin. Karena bersamaan dengan acara yang harus dihadirinya, Nadjmi batal menjadi pembicara. Nadjmi menitipkan rekaman sambutannya dalam sebuah video yang ditampilkan di hadapan para hadirin.

Dalam buku yang ditulis Hudan Nur, Ariffin Noor Hasby, dan Ali Syamsudin Arsi, ini terekam jejak panjang sastra Banjarbaru. Sebagian buku berisi profil singkat para sastrawan Banjarbaru. “Pendekatan geografis digunakan dalam penulisan buku ini. Jadi jejak langkah para sastrawan yang tinggal di Banjarbaru yang digunakan. Tapi pendekatan tematis juga kami gunakan,” ujar Ariffin.

Menurut Ali Syamsudin Arsi, harusnya kiprah panjang dan pengalaman komunitas sastra Banjarbaru menjadi bahan pelajaran bagi semua pihak, terutama Dewan Kesenian Daerah Kota Banjarbaru. “Selama ini bisa dikatakan Dewan Kesenian mengabaikan komunitas-komunitas sastra di Banjarbaru. Padahal komunitas-komunitas itulah yang berperan besar membentuk imej Banjarbaru sebagai kota yang sastranya kuat,” ujarnya.

Dalam hal komunitas itu, Hudan Nur menyatakan memang perlu kerja ekstra mengumpulkan jejak langkah mereka. Apalagi sebagian karya sastra Banjarbaru tak terdokumentasikan dengan baik, sehingga kadang kesulitan muncul. Kesulitan itu misalnya terjadi ketika menelusuri karya sastrawan Banjarbaru berupa cetakan kumpulan puisi yang kualitasnya masih baik. Atau kesulitan muncul ketika para pelaku (pendiri atau pengurus) komunitasnya telah berpulang. “Karena itu, dengan adanya buku ini akan memicu kemunculan kajian dan dokumen-dokumen penting yang berhubungan dengan sastra Banjarbaru,” ujarnya.

Dalam paparannya di hadapan hadirin, Micky Hidayat memaparkan perkembangan sastra Banjarbaru yang relatif lebih muda dibanding sastra Kalsel. “Jika sastra Kalsel berkembang sejak 1930, maka Banjarbaru mulai menjejakkan diri di dunia sastra pada awal 1970. Walau demikian sastra Banjarbaru berkembang baik dan menunjukkan eksistensi yang kuat,” ujar Micky.

Micky mengingatkan, peluncuran buku ’50 Tahun Sastra Banjarbaru, Sejarah dan Jejak Komunitas’ bisa menjadi awal pendokumentasian karya sastra yang rapi dan bermanfaat bagi banyak pihak. “Kita punya beberapa pendokumen yang baik. Sebagian mereka sudah berpulang. Sebagian dokumentasi mereka malah sudah dijual ke pihak lain,” ujar Micky.