Hoofd | Opini Berbudi | Budi “Dayak” Kurniawan | Pemimpin Redaksi BeritaBanjarbaru.com

0
Fadliansyah (kanan) ditemani ayahnya Syahriani Syahran (kiri), Balaikota, 17 Agustus 2019.
Budi “Dayak” Kurniawan – Pemimpin Redaksi BeritaBanjarbaru.com

“Hoofd, amun bisa jangan turun ka kantor dulu. Di sini HI lagi mahamuk. Inya mambawa lading (Ketua, kalau bisa jangan berangkat ke kantor dulu. Di sini HI sedang mengamuk. Dia membawa pisau).”

 

Kalimat-kalimat itulah yang disampaikan Wakil Pemimpin Umum Banjarmasin Post, HG Rusdi Effendi AR, pada 1 September 1977. Om Rusdi, begitu tokoh senior Kalsel itu biasa disapa –kini menjabat Pemimpin Umum Banjarmasin Post– mengingatkan hal itu kepada atasannya, HJ Djok Mentaya (1939 – 1994), melalui telepon ketika melihat segerombolan orang yang marah dan bersenjata tajam mendatangi kantor Banjarmasin Post di Jalan Pasar Baru 222, Banjarmasin.

 

Pada awalnya Djok mengindahkan peringatan itu. Tetapi tak berselang lama, Djok mengangkat telepon dan menghubungi Rusdi. “Di, HI masih di situ kah? Kaya apa amun aku ka kantor ja? (Di, HI masih di kantor? Bagaimana kalau saya ke kantor saja?).”

 

Tasarah Hoofd aja. HI masih di sini. Inya tarus maangkat dan maarah akan ladingnya. (Terserah Ketua saja. HI masih di sini. Dia terus mengacung-acungkan pisaunya),” Om Rusdi menjawab ragu.

 

Sekitar pukul 09.30 WITA pada Kamis, 1 September 1977, itu Djok sudah berada di depan kantor Banjarmasin Post, koran yang ia dirikan dan kelola bersama kawan-kawannya mantan aktivis gerakan mahasiswa Angkatan 1966 itu. Begitu Djok tiba, HI yang sebelumnya sudah mengamuk itu menyambut Djok dengan sebilah pisau terhunus. HI tak sendiri, ia ditemani tiga orang lainnya yang juga mencabut pisau.

 

Djok berusaha lari menghindari kejaran kawanan itu. Tetapi malang, dia tergelincir dan jatuh di depan kantor Harian Utama, salah satu koran cukup besar pada era 1970-an di Banjarmasin. Ketika itulah tiga mata pisau ditudingkan ke arah Djok. HI membentak Djok dan memerintahkan ayah tiga anak ini meminta ampun. “Ya, saya minta ampun,” cerita Djok kepada Sjachran R dari Majalah TEMPO pada awal September 1977.

 

Saat meminta ampun dan terdesak akibat tudingan pisau itulah, beberapa wartawan Harian Utama yang sedang berada di kantor muncul membantu Djok yang kala itu berusia 38 tahun. HI dan kawan-kawan pun langsung kabur. Para wartawan Harian Utama langsung memapah dan melarikan Djok ke rumah sakit.

 

Djok tergelincir saat berusaha menghindari HI dan kawan-kawan yang menyerangnya. Setelah tiba di Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin, Djok diperiksa Bagyo S Winoto, seorang dokter bedah yang cukup ternama di Kalimantan Selatan kala itu. Pemeriksaan menemukan tempurung lutut kiri Djok pecah, kakinya patah, dan salah satu urat kakinya putus. “Kalau tak segera dioperasi bisa cacat seumur hidup. Timpang atau lumpuh,” kata dr Bagyo tentang tempurung lutut Djok yang pecah.

 

Pada Jumat (2 September 1977) siang sekitar pukul 12.00 WITA dokter berhasil mengoperasi lutut kiri Djok yang cedera. Pada malam hari setelah Djok sadar dari pembiusan ketika operasi berlangsung, dia merasakan nyeri dan ngilu luar biasa pada tempurung lututnya yang sudah dijahit dengan kawat anti karat. Sakit yang luar biasa itu menyebabkan Djok tak bisa tidur. Baru pada malam ketiga setelah insiden itu rasa sakit berangsur-angsur berkurang. Pasca operasi Djok harus diopname selama sebulan. 

 

Kisah tentang insiden yang menimpa Djok Mentaya itu merupakan salah satu bagian dari buku ‘Djok, Sang Penakluk dari Sungai Mentaya’. Saya bersama adik Djok, Thamrin Junus, menulis buku itu pada tahun 2008. Dalam buku cukup tebal itu, riwayat hidup Djok terentang panjang. Sejak berada di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalteng, tempatnya dilahirkan, hingga jatuh bangun bersama dunia jurnalistik yang diyakini dan digelutinya. 

 

Bisa jadi kini Djok berjarak ruang dan waktu dengan generasi kekinian. Bisa jadi tak banyak lagi orang yang mengenal dan mengingatnya. Djok kini mungkin hanya dikenal dari nama sebuah ruas jalan di Banjarmasin dan sebuah gedung. Padahal, Djok sesungguhnya lebih dari sekadar itu. Dalam dirinya melekat kuat sosok Hoofd. Sosok Ketua. Sosok yang tak sekadar menjadi pemimpin dan berada di bawah terang cahaya. Tapi sosok yang mengambil alih semua tanggungjawab sekaligus mengayomi dan melindungi. Dalam diri Djok, sosok Hoofd menemukan bentuk sesungguhnya. 

 

Selain sosok Djok yang lindap, kini kata Hoofd yang berasal dari bahasa Belanda itu sudah sangat jarang lagi terdengar. Dulu, kata Hoofd menjadi salah satu kata serapan dalam Bahasa Banjar yang digunakan di berbagai tingkatan pergaulan. Kata Hoofd misalnya digunakan junior kepada para senior yang dianggap lebih dulu dan banyak makan asam garam kehidupan. Dalam perbincangan antara Om Rusdi dan Djok Mentaya misalnya, kata Hoofd menunjuk pada sosok yang akrab, dihormati, melindungi, dan mengayomi. Karena itulah, Hoofd bukanlah sekadar sapaan struktural kepada atasan, pemegang kekuasaan tertinggi, dan pengambil keputusan utama. 

 

***

 

Usai Pemilu Legislatif 2019, parlemen-parlemen lokal diisi wajah lama dan baru. Sebagian dari mereka telah dilantik menjadi anggota parlemen. Sebagian lainnya telah menunjuk pimpinan sidang sementara, menyusun tata tertib, dan alat kelengkapan dewan. Sebagian sudah melewati tiga tahapan itu dan telah menunjuk ketua dan wakil ketua dewan masing-masing. 

 

Di Banjarbaru, pelantikan dan pengambilan sumpah anggota DPRD dilaksanakan pada Rabu (9/10). Berdasarkan hasil Pileg 2019, Partai Golkar Kota Banjarbaru memenangkan pemilu (meraih 22.143 suara atau 17,87 persen) di atas perolehan suara Partai Gerindra (20.147 suara). Namun sistem sainte lague yang diberlakukan pada Pileg 2019 menyebabkan perubahan perolehan kursi. Golkar meraih lima kursi. Atau kalah satu kursi dari Partai Gerindra. Karena itulah, Gerindra berhak menduduki kursi Ketua DPRD Kota Banjarbaru.  

 

Yang menarik, DPRD Kota Banjarbaru yang sebelumnya dipimpin politisi Golkar, H AR Iwansyah, kini akan dipimpin anak muda. Berdasarkan SK DPP Partai Gerindra pada 27 Agustus 2019 yang menunjuk Fadliansyah, sebagai Ketua DPRD Kota Banjarbaru periode 2019-2024. Jamak diketahui, Fadliansyah merupakan putra mantan Sekda Kota Banjarbaru, H Syahriani Syahran yang kini menjabat sebagai Ketua DPC Gerindra Banjarbaru. Pada Pileg 17 April 2019, Fadliansyah memeroleh sebanyak 1203 suara. Di Dapil  Banjarbaru 4, Fadliansyah berbagi suara dengan teman separtai yang lebih dulu duduk sebagai anggota DPRD Kota Banjarbaru, yaitu Neni Hendryawati dengan total suara sebanyak 1808, dan Syamsul Bahri sebanyak 915 suara.  

 

Sebagai Ketua DPRD Kota Banjarbaru, Fadliansyah pasti akan menghadapi berbagai dera dan coba. Usia yang relatif muda dengan pengalaman yang tentu tak sebanyak para seniornya tak pelak akan jadi sorotan publik. Karena menjadi Ketua DPRD tentu tidaklah sama dengan jabatan struktural di lembaga eksekutif semacam Pemko Banjarbaru misalnya. Jika di lembaga eksekutif, pemimpin adalah pemegang kekuasaan tertinggi dengan kewenangan dan kekuasaan hampir mutlak terhadap para bawahan, sehingga keputusan mirip bersifat komando, tak demikian halnya dengan lembaga legislatif.

 

Partai mayoritas tak serta-merta akan sangat mudah mendominasi parlemen. Drama politik bahkan akan sangat mudah terjadi ketika partai politik berkursi sedikit mampu membangun koalisi strategis dan permanen. Pada awal sidang DPR RI lima tahun silam misalnya, drama politik berhasil dimainkan partai-partai berkursi sedikit. 

 

Tak pelak kala itu, PDI Perjuangan yang meraih banyak kursi sempat kewalahan menghadapi manuver lawan-lawan politiknya. Kala menetapkan alat-alat kelengkapan dewan, menentukan ketua-ketua komisi, dan pimpinan dewan, PDI Perjuangan di Senayan hampir tak kuasa berperan. Deadlock dan walk out dari persidangan kala itu pun berlangsung dan berulang. 

 

Pada tingkat lokal, drama politik misalnya terjadi berulang. Perseteruan eksekutif misalnya berdampak langsung pada konfigurasi politik di DPRD Kabupaten Banjar. Berulangkali sidang-sidang paripurna gagal digelar karena manuver partai-partai politik. Ujungnya, berbagai kebijakan eksekutif (Bupati dan Wakil Bupati) pun tersendat.

 

Karena itulah, posisi Ketua DPRD tak serta-merta aman dan akan dengan mudah mengarahkan para anggotanya. Apalagi jika para anggota adalah para politisi yang punya jam terbang tinggi dan berlatar aktivis yang besar di jalanan. Di Banjarbaru, Fadliansyah akan menghadapi para “serdadu tua” dan “news maker”. Jika ia tak mampu “mengelola” kedua karakter itu, bisa jadi Gerindra akan kesulitan memerjuangkan agenda-agenda politiknya di DPRD Banjarbaru.

 

Kala AR Iwansyah menjabat Ketua DPRD Banjarbaru, ia berproses menjadi Hoofd. Menjadi Ketua “sesungguhnya”. Iwansyah relatif mampu memimpin para anggotanya dan “pasang badan” bagi kebijakan Pemko Banjarbaru. Dalam bentuk nyata, lima tahun silam DPRD Banjarbaru tampil sebagai mitra strategis Pemko Banjarbaru. Jarang dan hampir tak pernah terdengar DPRD Banjarbaru didera drama politik yang berdampak langsung pada keputusan-keputusan Pemko Banjarbaru. 

 

Kini, peta politik Banjarbaru telah berubah. Ketua baru akan menjabat. Jika sosok Hoofd tak muncul pada diri ketua baru –setidaknya sedikit mendekati kisah Djok Mentaya–, niscaya drama politik akan terjadi. Tangan anggota DPRD Banjarbaru yang biasa diempaskan ke meja, suara interupsi yang biasa menggelegar, dan perseteruan dengan eksekutif akan sangat mungkin terjadi jika sosok Hoofd itu tak jua muncul. Bagaimana Hoofd?