GAS MAHAL DAN LANGKA DI BANJARBARU

0

BeritaBanjarbaru.com – Sepekan terakhir warga Banjarbaru kesulitan mendapatkan gas elpiji tiga kilogram. Di agen-agen yang biasa melayani warga, gas subsidi pemerintah untuk masyarakat miskin itu kosong. Kalau pun ada, harganya melambung hingga Rp45.000,- per tabung. Biasanya, gas elpiji tiga kilogram dijual seharga Rp18.000,- hingga Rp20.000,- per tabung.

“Biasanya normal. Namun, pekan ini memang kosong. Biasanya kami menjual dengan harga normal, Rp18.000,-. Kami menggunakan kupon agar teratur dan masyarakat tidak berebutan. Mudahan pasokan pekan ini kembali normal,” ujar salah satu agen di Kecamatan Landasan Ulin kepada BeritaBanjarbaru.com.

Harga yang mahal dan langka itu tak pelak membuat warga Banjarbaru yang membutuhkan gas elpiji tiga kilogram kebingungan. “Dua hari mencari masih juga tak ada. Di agen yang biasa menjual juga tak ada. Sampai ke kelurahan lain juga masih belum dapat. Kalau pun dapat, harganya pasti dua kali lipat lebih mahal,” ujar Karim, warga Kelurahan Kemuning, Banjarbaru, Selasa (27/8).

Mahal dan langkanya gas elpiji tiga kilogram di Banjarbaru, menurut Kepala Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru, Abdul Basid, terjadi karena gangguan distribusi. “Kondisi ini biasa dalam setahun. Terjadi gangguan distribusi. Misalnya gelombang besar. Itu mengganggu distribusi,” kata Abdul Basid, Selasa (27/8).

Banjarbaru, ujar Basid, mendapat kuota gas elpiji tiga kilogram sebanyak 160.720 tabung. “Dengan jumlah kuota itu, malah terjadi kelebihan stok. Dinas Perdagangan tak memiliki kewenangan dalam soal harga. Harusnya gas elpiji tiga kilogram itu tepat sasaran,” katanya.

Walau gas elpiji tiga kilogram ditujukan untuk masyarakat miskin, ujar Basid, Dinas Perdagangan tak bisa menetapkan kriteria penerima miskin atau tidak. “Disdag tak dapat menetapkan kriteria miskin atau tidak. Kita hanya  koordinasi dan melaporkan ke Pertamina.  Responnya bagus, segera operasi pasar di daerah yang bermasalah. Untuk menstabilkan harga, kita akui kesulitan,” katanya.

Masih menurut Abdul Basid, pihaknya selama ini menggunakan data dari Dinas Sosial Kota Banjarbaru untuk menetapkan kriteria masyarakat yang tergolong miskin atau tidak. Namun, menurut Kasi Jaminan Sosial Dinas Sosial Kota Banjarbaru, Nur Aida Fitria, Rabu (28/8), pihaknya belum pernah menerima permintaan data masyarakat yang tergolong miskin dari Dinas Perdagangan.

“Dinas Sosial sendiri menggunakan data dari BPS. Jumlah masyarakat yang tergolong miskin di Banjarbaru (up date pada Maret 2019) dan berdasarkan basis data terpadu (BDT) sebanyak 11.007 rumah tangga. Untuk klasifikasi miskin acuannya BPS. Data itu bersumber dari Kemensos RI. Data itu salah satunya digunakan untuk penerima Program Keluarga Harapan dan Bantuan Pangan Non Tunai,” ujar Nur Aida Fitria.

Untuk menstabilkan harga dan memudahkan masyarakat mendapatkan gas elpiji tiga kilogram, Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru, akan menggelar operasi pasar. “Jumat 30 Agustus nanti kami menggelar operasi pasar. Lokasinya di Guntung Manggis dan Landasan Ulin Timur,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru, Abdul Basid. (Rudy Azhary)